banner 728x250

Kebanjiran Order Ramadan, Kampung Nastar Tangerang Produksi 24 Jam Nonstop

Dirintis Sejak 1988, Kampung Nastar Kini Jadi Sentra Kue Favorit Lebaran
Kue nastar yang diproduksi secara massal untuk memenuhi lonjakan pesanan Ramadan di Kampung Nastar, Tangerang, Banten, Kamis (26/2/2026) (Foto: cnbc)
banner 120x600
banner 468x60

MAHA SUARA, BANTEN – Kebanjiran Order Ramadan, Kampung Nastar Tangerang Produksi 24 Jam Nonstop
Suasana sibuk terlihat di Kampung Nastar, Gang Subur, Kelurahan Larangan Utara, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Banten, Kamis (26/2/2026).

Memasuki bulan Ramadan, sentra industri rumahan tersebut mengalami lonjakan pesanan kue nastar yang signifikan.

banner 325x300

Lonjakan permintaan itu memaksa pelaku usaha mengoperasikan produksi selama 24 jam nonstop dengan sistem shift.

Para pekerja terlihat bergantian mengolah adonan, memanggang, hingga mengemas kue demi mengejar target pesanan yang terus berdatangan dari berbagai daerah.

Penggunaan oven listrik modern membantu menjaga konsistensi warna dan tingkat kematangan kue meski volume produksi meningkat tajam.

Dalam sehari, proses produksi bahkan menghabiskan sekitar 60 kilogram margarin untuk memenuhi kebutuhan adonan.

“Saat ini permintaan banyak, hingga harus 24 jam nonstop dengan sistem shift untuk mengerjakan semua pesanan,” ujar salah satu pekerja di lokasi.

Kesibukan para pekerja membuat kue nastar menjelang lebaran di kampung nastar Tanggerang banten (Foto: Istimewa)

Kesibukan paling terasa pada area pengemasan, di mana ratusan toples nastar disiapkan setiap harinya.

Para pekerja harus bergerak cepat namun tetap teliti agar kualitas kue tetap terjaga sebelum dikirim ke pelanggan.

Mayoritas pekerja merupakan warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga yang kini memperoleh tambahan penghasilan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Aktivitas produksi ini memberi dampak ekonomi langsung bagi lingkungan setempat tanpa harus bekerja jauh dari rumah.

Hesti, generasi penerus usaha keluarga, mengungkapkan bisnis tersebut telah dirintis sejak 1988 oleh ibunya dan berkembang menjadi ekosistem usaha warga.

“Dulu ibu saya yang mengelola, lalu saya teruskan. Karyawan-karyawan kami kemudian banyak yang membuka usaha sendiri di lingkungan ini, hingga akhirnya pengurus RT dan RW mencetuskan nama Kampung Nastar,” tuturnya.

Ia menambahkan, momentum Ramadan hampir setiap tahun menjadi periode paling sibuk bagi para pelaku usaha di kawasan tersebut karena permintaan meningkat berkali-kali lipat dibanding hari biasa.

Saat ini tercatat sekitar 26 industri rumahan aktif di wilayah RT 02 dan RT 05 RW 01. Keberadaan Kampung Nastar bukan hanya menjadi pusat produksi kue kering, tetapi juga contoh kolaborasi ekonomi warga yang saling menguatkan di momentum Ramadan. (*)

Pewarta: Ahmad

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *