banner 728x250
Berita  

Harga Batu Bara Tertekan ke US$116,25, China Kurangi Tender Impor dari Indonesia

Harga Batu Bara Tertekan ke US$116,25, China Kurangi Tender Impor dari Indonesia
ilustrasi aktivitas pengangkutan batu bara menggunakan truk di kawasan pertambangan harga batu bara global saat ini melemah, Rabu (12/2/2026) (Foto: Ilustrasi/Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

MAHASUARA, JAKARTA – Harga batu bara global kembali tertekan setelah sempat mencatat kenaikan tipis sehari sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, harga batu bara termal ditutup di level US$116,25 per ton pada Selasa (10/2/2026), turun 1,06% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

banner 325x300

Pelemahan ini terjadi setelah pada Senin harga sempat naik tipis sekitar 0,2%, namun tidak mampu bertahan di tengah melemahnya minat beli dari pasar utama, khususnya China.

Tekanan harga datang dari laporan bahwa para trader di China semakin enggan berpartisipasi dalam tender pembelian batu bara termal asal Indonesia.

Sumber pasar menyebutkan, harga tawaran dari eksportir luar negeri, termasuk Indonesia, dinilai sudah terlalu tinggi sehingga peluang arbitrase menjadi kurang menarik.

Indeks CCI untuk batu bara Indonesia dengan nilai kalor rendah 3.800 Kcal/kg NAR tercatat mencapai sekitar US$51 per ton FOB, level tertinggi sejak akhir November tahun lalu.

Untuk grade yang lebih tinggi, kenaikan harga juga signifikan, bahkan sejumlah penawaran pengiriman Maret disebut menyentuh kisaran US$54,5 hingga US$55 per ton FOB.

Namun kenaikan harga tersebut justru menjadi bumerang. Partisipasi dalam tender impor oleh utilitas China dilaporkan menurun drastis.

Banyak trader memilih menahan diri dan tidak melakukan komitmen pembelian di level harga saat ini karena risiko dinilai tidak sebanding dengan potensi keuntungan.

Selain faktor harga, pelemahan permintaan musiman juga memengaruhi pasar. Sejumlah pelaku pasar mencatat bahwa konsumsi batu bara oleh pembangkit listrik di China cenderung turun setelah musim dingin berakhir.

Data menunjukkan konsumsi batu bara menurun sekitar 10–12% baik secara mingguan maupun bulanan.

Dengan harga impor yang tidak lagi kompetitif, sejumlah utilitas di China mulai mempertimbangkan untuk meningkatkan penggunaan batu bara domestik yang lebih murah.

Meski demikian, batu bara Indonesia tetap memiliki peran penting sebagai bahan campuran atau blending fuel di beberapa pembangkit listrik, karena kualitasnya membantu menekan kadar abu dan sulfur dalam proses pembakaran.

Data pelacakan kargo turut memperlihatkan dampak pelemahan ini. Ekspor batu bara Indonesia ke daratan China tercatat turun sekitar 35,5% secara bulanan pada Januari.

Penurunan tersebut mencerminkan melambatnya aktivitas pembelian dari importir utama Indonesia itu.

Sementara itu, harga batu bara termal di tingkat mulut tambang atau mine-mouth di kawasan produksi utama China relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Pergerakan harga hanya mengalami penyesuaian kecil di tengah aktivitas perdagangan yang lesu serta keseimbangan permintaan dan pasokan yang lemah.

Stabilnya harga mine-mouth menunjukkan bahwa pasokan lokal di China saat ini masih cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Tidak adanya tekanan signifikan dari sisi pasokan maupun lonjakan permintaan membuat harga cenderung bergerak datar.

Permintaan batu bara dari sektor pembangkit listrik di China memang masih tergolong kuat secara struktural.

Namun volatilitas konsumsi listrik serta meningkatnya kontribusi energi terbarukan membuat permintaan batu bara menjadi lebih fluktuatif. Kondisi ini turut membatasi ruang kenaikan harga di pasar internasional.

Di sisi lain, tingkat persediaan batu bara yang relatif besar di sejumlah pelabuhan dan pembangkit juga menjadi faktor penahan laju harga.

Dari sisi global, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan di Amerika Serikat. Tennessee Valley Authority (TVA) dilaporkan berencana tetap mengoperasikan dua pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya dijadwalkan ditutup.

Dalam dokumen terbaru, TVA mengisyaratkan keinginan untuk menghapus target penutupan PLTU Kingston dan Cumberland di Tennessee, meski keputusan akhir masih menunggu persetujuan dewan direksi.

Langkah ini menandai perubahan arah kebijakan energi, terutama setelah adanya perubahan komposisi dewan yang mayoritas anggotanya ditunjuk pemerintahan yang dikenal pro-batu bara.

Sebelumnya, TVA menargetkan seluruh pembangkit batu bara tua ditutup paling lambat 2035 sebagai bagian dari strategi penurunan emisi gas rumah kaca.

Rencana terbaru tetap mencakup pembangunan pembangkit berbahan bakar gas alam dan fasilitas baterai penyimpanan, namun ada usulan untuk menghapus komponen tenaga surya di salah satu proyek.

Perubahan kebijakan tersebut memberi sinyal bahwa transisi energi di AS masih menghadapi dinamika politik dan kebutuhan pasokan listrik yang terus meningkat.

Kombinasi pelemahan permintaan dari China, harga impor yang kurang kompetitif, serta dinamika kebijakan energi global membuat harga batu bara bergerak dalam tekanan.

Pelaku pasar kini mencermati apakah penurunan ini bersifat sementara atau menjadi awal fase konsolidasi harga yang lebih panjang di tengah perubahan pola konsumsi energi dunia. (AAE)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *