MAHASUARA.ID – Manusia yang tidak memiliki getaran frekuensi spiritual, jiwa atau batinnya seperti mati suri.
Biasanya ketiadaan frekuensi spiritual ini disebabkan oleh kurangnya menghayati dan merenungkan tentang keberadaan tentang diri sendiri untuk kemudian membangun rasa syukur bahwa apa yang telah diperoleh dan dinikmati sampai hari ini adalah karunia dari Tuhan.
Karunia itu sendiri adalah kesadaran terhadap apa yang telah kita miliki dan nikmati bukan hasil dari usaha kita sendiri, tetapi merupakan anugrah Tuhan dalam bentuk kemampuan kesempatan kesehatan dan kekuatan kita dalam berbagai bentuk yang melengkapi kehidupan diri kita sendiri.
Sehingga gerakan untuk merenungkan karunia dari Tuhan ini dapat membangun rasa syukur dan kesadaran spiritual dalam setiap diri manusia.
Sedangkan kesadaran terhadap apa yang telah dimiliki dan bisa dinikmati merupakan jalan spiritual untuk membimbing rasa syukur, sehingga dapat menekan sikap egoistis, tamak, rakus dan sombong untuk tidak memandang rendah sesama manusia yang lain.
Lalu getaran cinta dan kasih sesama manusia dapat terus terjaga, sebagai bagian dari martabat dan kehormatan bagi diri kita sendiri untuk terus tampil bersama manusia yang lain. Tanpa pernah untuk memandang rendah, apalagi untuk berlaku zalim terhadap siapapun.
Pada akhirnya, laku spiritual tidak hanya sekedar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga harus berarti untuk menjauhkan diri dari sikap munafik, iri hari, sombong, tipu daya serta berbagai perilaku culas yang tidak sesuai dengan fitrah manusia yang dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifatullah wakil Tuhan di bumi.
Fitrah manusia ini pun sungguh dilengkapi oleh godaan dan cobaan untuk diuji ketangguhannya oleh Tuhan melalui iblis dan syetan yang akan selalu disaksikan oleh malaikat di setiap waktu. Tidak kecuali saat manusia tertidur, dimana semua beban hidup dilupakan untuk sementara waktu.
Getaran kesadaran dari frekuensi spiritual setiap manusia idealnya senantiasa terus terjaga terasa untuk terus ditingkatkan daya sensitivitasnya agar dapat menangkap sinyal-sinyal yang tidak kasat mata, namun dapat terlihat oleh mata-hati.
Termasuk suara-suara yang tidak terdengar, tapi bisa jelas tertangkap memberikan pertanda untuk dapat diketahui, sehingga berbagai kemungkinan dari apa yang bakal terjadi kemudian atau sebagai sesuatu yang perlu segera diantisipasi dapat dilakukan hingga memberi manfaat buat diri kita sendiri atau bahkan juga untuk orang lain.
Kesadaran spiritual bagi setiap manusia itu diperlukan untuk mengendalikan diri agar tidak sampai menggagahi orang lain.
Setidaknya, guna menahan hawa nafsu keserakahan, tidak hanya dalam arti materi, tapi juga kekuasaan serta ketamakan dapat berbagai bentuk yang lain yang sifatnya duniawi.
Sebab keserakahan manusia itu mulai dari berbicara, perilaku hingga bentuk perbuatan yang nyata dan tidak kasat mata cenderung berlebih dan jauh keluar dari batas yang wajar dan tamak.
Karena itu kesadaran spiritual harus dimulai dari saat berbicara, tidak berlebih, mau mendengat pembicaraan orang, selalu menakar diri untuk tidak berlebih terutama mulai dari sikap dan perilaku sampai perbuatan atau tindakan yang tidak boleh membuat kerugian bagi orang lain.
Oleh karena itu kesadaran spiritual sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan batin dan jiwa agar tidak didominasi oleh akal pikiran yang selalu sarat mengusung egosentrisitas, nafsu dam kehendak yang muncul dari hasrat pribadi dengan mengabaikan hasrat atau bahkan hak pribadi orang lain.
Begitulah getaran kesadaran spiritual mampu untuk membimbing sikap tenggang rasa serta toleransi bagi orang lain. (*)
Opini: Kecerdasan Serta Kesadaran Spiritual Mampu Menjaga Tenggang Rasa dan Toleransi Bagi Orang Lain
Oleh: Jacob Ereste
Cilegon, 2 Februari 2026













