banner 728x250
Berita  

Berburu Ikan Sapu-Sapu, Solusi atau Ilusi? Ini Peringatan Keras dari Pakar IPB

Berburu Ikan Sapu-Sapu, Solusi atau Ilusi? Ini Peringatan Keras dari Pakar IPB
Petugas bersama warga berburu ikan sapu-sapu di aliran sungai sebagai upaya menekan populasi spesies invasif, Jakarta, (21/04/2026) (Foto: Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

MAHA SUARA, JAKARTA – Upaya penangkapan massal ikan sapu-sapu yang ramai dilakukan di sejumlah badan air Jakarta memunculkan harapan baru sekaligus tanda tanya besar.

Di satu sisi, aksi ini dianggap sebagai langkah konkret mengatasi ledakan populasi spesies invasif tersebut. Namun di sisi lain, para ahli justru mengingatkan bahwa pendekatan ini bisa menjadi sekadar ilusi jika tidak dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

banner 325x300

Fenomena perburuan ikan sapu-sapu semakin marak dalam beberapa pekan terakhir. Warga bersama pemerintah terlihat turun langsung ke sungai dan waduk, menangkap ikan yang dikenal memiliki daya tahan tinggi dan berkembang biak sangat cepat itu.

Namun, di balik euforia tersebut, pakar perikanan mengingatkan bahwa masalah utamanya jauh lebih kompleks.

Pakar ikan dan konservasi dari IPB University, Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa penangkapan massal tidak bisa berdiri sendiri sebagai solusi utama. Ia menyebut, pendekatan tunggal justru berisiko tidak memberikan dampak signifikan dalam jangka panjang.

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkap Charles dalam keterangannya, Selasa (21/04/2026).

Ikan sapu-sapu atau Pterygoplichthys pardalis dikenal sebagai spesies asing invasif yang memiliki kemampuan reproduksi luar biasa. Dalam satu siklus reproduksi, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19 ribu telur.

Tak hanya itu, ikan ini juga bisa berkembang biak beberapa kali dalam setahun, menjadikannya salah satu spesies paling sulit dikendalikan di perairan tawar.

Lebih jauh, sistem reproduksi ikan ini juga sangat efisien. Seekor jantan dapat membuahi dua betina sekaligus, kemudian menjaga telur hingga menetas di dalam liang yang mereka buat.

Tingkat kelangsungan hidupnya bahkan bisa mencapai lebih dari 90 persen.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa ikan sapu-sapu mampu bereproduksi sejak ukuran tubuhnya masih relatif kecil.

Dengan siklus hidup yang cepat dan tingkat adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, populasi ikan ini dapat meledak dalam waktu singkat.

Tak adanya predator alami di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi faktor kunci lainnya. Di habitat aslinya di Amerika Selatan, ikan ini memiliki musuh alami seperti ikan predator besar, reptil, hingga burung air.

Namun di Indonesia, rantai ekosistem tidak mampu mengimbangi laju pertumbuhan populasinya.

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem lokal menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelas Charles.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas air justru turut mendukung pertumbuhan populasi ikan sapu-sapu.

Kondisi perairan dengan kadar oksigen tertentu, tingkat keasaman stabil, serta kandungan bahan organik yang cukup, menjadi lingkungan ideal bagi spesies ini untuk berkembang.

Artinya, selama kondisi lingkungan masih mendukung dan tidak ada intervensi menyeluruh, penangkapan massal hanya akan mengurangi populasi sementara. Dalam waktu singkat, jumlahnya berpotensi kembali meningkat.

Charles menekankan bahwa langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama. Salah satunya dengan memperketat regulasi perdagangan ikan hias, mengingat ikan sapu-sapu awalnya masuk ke Indonesia melalui jalur tersebut.

Ia juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan ini ke perairan umum, baik disengaja maupun tidak.

Kebiasaan ini dinilai menjadi salah satu pemicu utama penyebaran spesies invasif di berbagai wilayah.

Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA atau eDNA dinilai dapat membantu mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.

Dengan deteksi dini, langkah pengendalian bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.

Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan. Namun, strategi penangkapan harus lebih terarah, terutama dengan menyasar ikan berukuran kecil yang belum sempat berkembang biak.

Pelibatan masyarakat juga dianggap penting, terutama dalam skala lokal. Perburuan berbasis komunitas dapat membantu menekan populasi, meskipun dampaknya akan terbatas jika tidak dilakukan secara serentak di sepanjang aliran sungai.

“Perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Jika tidak, ikan dari wilayah lain akan kembali masuk dan populasi akan pulih dengan cepat,” tambahnya.

Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator lokal seperti ikan baung dan betutu dapat menjadi alternatif. Namun metode ini hanya efektif pada fase awal kehidupan ikan sapu-sapu, sehingga tidak cukup untuk mengendalikan populasi dewasa.

Sementara itu, wacana pemanfaatan ikan sapu-sapu juga mulai muncul, seperti untuk bahan kerajinan atau pakan. Namun, Charles mengingatkan agar ikan dari perairan tercemar tidak dikonsumsi karena berpotensi mengandung logam berat berbahaya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, perburuan ikan sapu-sapu pada akhirnya menjadi pertanyaan besar: apakah benar solusi, atau sekadar ilusi yang menenangkan sesaat?

Tanpa strategi terpadu yang melibatkan regulasi, teknologi, edukasi, hingga intervensi ekosistem, upaya penangkapan massal dikhawatirkan hanya menjadi langkah reaktif yang tidak menyentuh akar persoalan.

Di tengah ancaman terhadap keseimbangan ekosistem perairan, satu hal menjadi jelas: melawan spesies invasif seperti ikan sapu-sapu tidak cukup dengan aksi sesaat, tetapi membutuhkan komitmen jangka panjang dan pendekatan yang lebih cerdas. (*)

Pewarta: Rahman

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *