Opini  

Jejak Hijau Di Hari Pancasila: Investasi untuk Masa Depan Makassar

Menanam Pancasila di Tanah Makassar: Ketika Pohon Menjadi Bahasa Kebangsaan

Jejak Hijau Di Hari Pancasila: Investasi untuk Masa Depan Makassar
Mashud Azikin bersama jajaran PNM, Yayasan Butta Porea Indonesia, dan DLH Kota Makassar usai penanaman pohon di Monumen Mandala, Makassar, Senin (1/6/2026) (Foto: Istimewa)

MAHASUARA.ID – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada fondasi yang menyatukan keberagaman negeri ini: Pancasila.

Namun, di tengah berbagai tantangan zaman, terutama krisis iklim dan degradasi lingkungan, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara dan seremoni.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.

Di Kota Makassar, semangat tersebut menemukan bentuknya melalui aksi penanaman 500 bibit pohon yang diinisiasi PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Makassar bekerja sama dengan Yayasan Butta Porea Indonesia dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir Pancasila, tetapi juga bertepatan dengan Hari Jadi PNM serta momentum menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Tiga momentum besar itu bertemu dalam satu pesan sederhana namun mendalam: masa depan yang baik harus ditanam mulai hari ini.

Kota-kota besar di Indonesia, termasuk Makassar, menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pertumbuhan penduduk, ekspansi kawasan permukiman, peningkatan jumlah kendaraan, hingga perubahan pola penggunaan lahan terus memberikan tekanan terhadap kualitas lingkungan.

Ruang terbuka hijau semakin terbatas, suhu kota meningkat, dan daya serap air tanah berkurang dari tahun ke tahun.

Dalam konteks itulah, menanam pohon bukan sekadar kegiatan simbolik. Ia merupakan investasi ekologis jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung dirasakan hari ini, tetapi akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Aksi yang diawali melalui upacara bendera di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat menunjukkan bahwa nilai kebangsaan dan kepedulian lingkungan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.

Ketika para peserta upacara kemudian turun langsung menanam pohon, terdapat pesan kuat bahwa cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan menjaga tanah tempat kita berpijak.

Pancasila mengajarkan gotong royong, keadilan sosial, dan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai tersebut tampak nyata ketika korporasi, komunitas lingkungan, dan pemerintah daerah duduk bersama dalam satu gerakan kolektif. Tidak ada sekat kepentingan.

Yang ada adalah kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tugas bersama.

Lebih dari itu, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana perusahaan modern dapat memainkan peran yang lebih luas dalam pembangunan.

Di era yang menuntut penerapan prinsip keberlanjutan, keberhasilan sebuah perusahaan tidak lagi diukur semata dari keuntungan ekonomi yang diperoleh.

Perusahaan juga dituntut memberikan kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Melalui penanaman pohon, PNM menunjukkan bahwa investasi sosial dan investasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan misi pemberdayaan ekonomi.

Jika selama ini PNM dikenal sebagai lembaga yang membantu menumbuhkan usaha masyarakat kecil, maka melalui gerakan ini PNM juga ikut menumbuhkan fondasi ekologis yang menopang kehidupan masyarakat di masa depan.

Yang menarik, program ini tidak terjebak pada pendekatan seremonial yang hanya mengejar jumlah pohon tertanam.

Pemilihan jenis pohon dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat ekologis yang berbeda-beda.

Pohon Tabebuya dipilih untuk memperindah wajah kota dan meningkatkan kualitas estetika ruang publik. Pohon Gaharu menjadi simbol investasi hijau bernilai tinggi yang memiliki daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Sementara pohon Sukun berfungsi sebagai penyangga konservasi air yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Demikian pula dengan lokasi penanaman yang dirancang secara strategis.

Sebaran pohon tidak hanya terpusat pada satu titik, melainkan diarahkan ke berbagai kawasan yang membutuhkan penguatan tutupan vegetasi, mulai dari kawasan pesisir yang rentan abrasi hingga wilayah permukiman padat yang minim ruang hijau.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa gerakan lingkungan yang efektif harus berbasis perencanaan dan keberlanjutan, bukan sekadar pencitraan sesaat.

Tantangan berikutnya tentu adalah memastikan bahwa pohon-pohon yang ditanam hari ini dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Banyak program penghijauan berakhir hanya sebagai dokumentasi kegiatan karena minimnya perawatan pasca-penanaman.

Karena itu, kolaborasi antara PNM, Yayasan Butta Porea Indonesia, dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menjadi faktor penting.

Kehadiran berbagai pihak dengan fungsi yang saling melengkapi memberikan harapan bahwa pohon-pohon tersebut akan terus dipantau dan dirawat hingga benar-benar tumbuh menjadi bagian dari ekosistem kota.

Kelak, ketika bunga-bunga Tabebuya bermekaran di sudut-sudut jalan Makassar, ketika akar-akar Sukun membantu menyimpan cadangan air tanah, dan ketika kawasan pesisir semakin hijau oleh vegetasi yang tumbuh kuat, masyarakat mungkin tidak lagi mengingat detail seremoni yang mengawalinya.

Namun manfaatnya akan terus dirasakan. Di situlah makna sesungguhnya sebuah investasi lingkungan.

Ia tidak menghasilkan keuntungan dalam hitungan hari atau bulan, tetapi menghadirkan manfaat yang diwariskan lintas generasi.

Hari Lahir Pancasila tahun ini memberi pelajaran penting bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang gedung, jalan, atau pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga berarti memastikan anak cucu kita masih dapat menghirup udara yang bersih, menikmati kota yang teduh, dan hidup dalam lingkungan yang sehat.

Jejak hijau yang ditanam hari ini adalah bentuk tanggung jawab kita kepada masa depan.

Sebab pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya kota yang tumbuh tinggi oleh beton dan baja, melainkan kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam. Dan Makassar sedang menapaki jalan itu, satu pohon demi satu pohon. (*)

Opini: Jejak Hijau Di Hari Pancasila: Investasi untuk Masa Depan Makassar

Oleh: Mashud Azikin (Yayasan Butta Porea Indonesia / Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

💚 Donasi
×

Apresiasi Spesial

Minimal apresiasi Rp5.000

Metode Pembayaran

DANA
GOPAY
QRIS

Pesan apresiasi