Budaya  

Refleksi Kartini 2026: Kolaborasi Organisasi Dorong Literasi Pencerdasan Perempuan

Kolaborasi Lintas Organisasi di Jatinegara Bahas Literasi Perempuan di Momentum Hari Kartini

Refleksi Kartini 2026: Kolaborasi Organisasi Dorong Literasi Pencerdasan Perempuan
Panitia, narasumber, dan peserta kegiatan Refleksi Kartini 2026 usai diskusi literasi perempuan di Aula Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (26/4/2026) (Foto: Istimewa)

MAHASUARA.ID, JAKARTA – Momentum Hari Kartini 2026 dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan gerakan kolektif untuk mendorong literasi perempuan melalui kolaborasi lintas organisasi.

Kegiatan bertema “Kartini dan Literasi Pencerdasan Kaum Perempuan” ini digelar di Aula Kecamatan Jatinegara, Minggu (26/04/2026), dan dihadiri berbagai elemen masyarakat serta organisasi kepemudaan.

Kegiatan ini diinisiasi oleh DPC Pergerakan Sarinah Jakarta Timur bersama Sarinah GMNI Jakarta Timur, FKDM Kecamatan Jatinegara, dan FTBM Jakarta Timur.

Sinergi tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran literasi sebagai fondasi utama pemberdayaan perempuan di era digital.

Dukungan penuh datang dari Camat Jatinegara, Dr. Endang Kartika W., S.K.M., M.M., serta FKDM Provinsi DKI Jakarta. Keterlibatan pemerintah sebagai mitra dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat peran perempuan berbasis pengetahuan dan literasi.

Ketua pelaksana, Reva Pasaribu, dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang menempatkan pendidikan sebagai kunci kemajuan perempuan.

“Semangat Kartini harus dimaknai lebih dalam. Bukan hanya emansipasi formal, tetapi bagaimana perempuan mampu mengakses pengetahuan dan menjadi aktor perubahan,” ujarnya.

Sementara itu, Adhi Ayoe Yanthy selaku Majelis Penasehat DPP Pergerakan Sarinah sekaligus Ketua FKDM Provinsi DKI Jakarta menyampaikan kritik terhadap kondisi pendidikan saat ini yang dinilai belum sepenuhnya mencerdaskan.

“Sekolah memang banyak, tetapi kualitas pendidikan yang benar-benar membangun kesadaran kritis masih perlu diperkuat. Bahkan Kartini di usia muda sudah mampu berpikir global dan membangun jejaring internasional,” ungkapnya.

BACA JUGA:

Breaking News: Prabowo Resmi Reshuffle Kabinet, Ini Daftar Lengkap Menteri dan Kepala Badan

Puncak Peringatan Hari Kartini 2026 di Buleleng: Semangat Pemberdayaan dan Apresiasi Prestasi Kesehatan

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua DPC Pergerakan Sarinah Jakarta Timur, Tiarma Simanjuntak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kontekstualisasi nilai-nilai Kartini agar relevan dengan tantangan zaman modern.

“Perempuan masa kini harus hadir dalam ruang publik, aktif dalam isu sosial, dan mampu berkontribusi melalui pengetahuan dan literasi,” tegasnya.

Nuansa reflektif semakin kuat dengan pembacaan pesan-pesan Kartini oleh Umy Syahroh, S.Pd.I., yang mengingatkan kembali pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju kesetaraan dan kemandirian perempuan.

Memasuki sesi diskusi yang dipandu Hanifathul Maula, para narasumber mengupas berbagai tantangan literasi di tengah derasnya arus digital. Dr. Endang Kartika W. menyoroti fenomena kecanduan gawai yang semakin mengkhawatirkan.

“Perlu penanganan lintas sektor, mulai dari pendekatan psikologi hingga kebijakan publik, termasuk peran Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dalam mengatur ekosistem digital yang sehat,” jelasnya.

Di sisi lain, Tika Dian Pangastuti dari Pergerakan Sarinah menegaskan bahwa literasi adalah kemampuan dasar dalam memahami dan menyaring informasi.

“Literasi tidak hanya soal membaca, tetapi bagaimana seseorang mampu menganalisis dan menggunakan informasi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menutup diskusi, Sarinah Salo dari Wakabid Pergerakan Sarinah DPP GMNI menekankan bahwa literasi merupakan kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif.

“Baik perempuan maupun laki-laki harus memiliki kemampuan literasi agar dapat berkontribusi dalam pembangunan yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui semangat kolektif “Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang”, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi perempuan yang cerdas, kritis, dan berdaya.

Refleksi Kartini 2026 pun menjadi pengingat bahwa perjuangan emansipasi kini bertransformasi menjadi perjuangan literasi di tengah tantangan era digital. (TS/Megy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *