banner 728x250

DILIBAS Episode 5 STIK Polri Kupas Isu Retorika dan Harapan Reformasi Polri

DILIBAS Episode 5 STIK Polri Kupas Isu Retorika dan Harapan Reformasi Polri
Suasana Dialog Literasi Kebangsaan (DILIBAS) Episode 5 yang menampilkan pemateri, pakar, dan mahasiswa dalam sesi diskusi. Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025) (Foto: Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

MAHA SUARA, JAKARTA – STIK Lemdiklat Polri kembali menggelar Dialog Literasi Kebangsaan (DILIBAS) Episode 5 yang kali ini mengangkat tema krusial: “Reformasi Polri: Retorika atau Harapan?”

Diskusi yang berlangsung di Auditorium Mutiara STIK, Jakarta Selatan ini menjadi panggung terbuka bagi para pakar nasional, akademisi, pejabat utama Polri, serta mahasiswa untuk mengulas arah reformasi kepolisian secara kritis namun konstruktif, Rabu (10/12/2025).

banner 325x300

Ketua STIK Lemdiklat Polri Irjen Pol Dr. Eko Rudi Sudarto, S.I.K., M.Si., membuka forum dengan penekanan bahwa reformasi Polri tidak boleh hanya menjadi slogan.

Menurutnya, perubahan struktural dan regulatif memang penting, namun tidak cukup tanpa perubahan etika, moral, dan keteladanan pimpinan. Ia menyebut bahwa keberanian mengoreksi diri menjadi fondasi utama dalam memperkuat legitimasi publik terhadap Polri.

“Transformasi Polri harus dibangun di atas keberanian moral, etika, dan keteladanan,” tegasnya di hadapan ratusan peserta. Ia menambahkan bahwa reformasi sejati menuntut konsistensi dalam integritas, bukan sekadar program yang ditampilkan dalam laporan formal.

Dalam forum tersebut, hadir sejumlah tokoh nasional seperti Prof. Dr. Eko Prasojo yang menggarisbawahi bahwa reformasi Polri harus menyentuh akar masalah birokrasi dan tata kelola lembaga.

Ia menilai bahwa kepercayaan masyarakat akan tumbuh ketika Polri mampu menghadirkan pelayanan yang lebih terbuka, humanis, dan berbasis akuntabilitas publik.

Sementara itu, aktivis HAM Usman Hamid memberikan pandangan kritis terkait perlunya perlindungan hak masyarakat dalam setiap proses penegakan hukum, terutama dalam situasi yang melibatkan penggunaan kewenangan aparat.

Diskusi semakin hidup ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan yang menantang seputar pertanggungjawaban moral aparat, penggunaan teknologi sebagai alat transparansi, hingga konsekuensi etis dalam pelayanan kepolisian di era digital.

Mereka menilai bahwa Polri harus mampu mengikuti dinamika perubahan sosial sambil menjaga prinsip-prinsip keadilan dan proporsionalitas.

STIK Lemdiklat Polri melalui gelaran DILIBAS Episode 5 menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat produksi gagasan reformasi yang progresif.

Institusi pendidikan Polri ini ingin memastikan bahwa proses perubahan tidak berhenti pada retorika, melainkan benar-benar hadir sebagai harapan nyata yang dirasakan masyarakat.

Kegiatan tersebut juga dihadiri pejabat utama STIK–PTIK Lemdiklat Polri, termasuk Brigjen Pol Dr. Endra Zulpan, S.I.K., M.Si., yang menekankan perlunya menyelaraskan konsep akademik dengan praktik lapangan.

Menurutnya, dialog seperti ini menjadi ruang penting untuk menyatukan perspektif antara Polri, pakar, dan generasi muda yang kritis terhadap masa depan institusi.

Dengan beragam pandangan yang muncul, DILIBAS Episode 5 menjadi bukti bahwa reformasi Polri masih menghadapi tantangan besar.

Namun melalui forum terbuka seperti ini, batas antara retorika dan harapan semakin diuji, sekaligus membuka ruang untuk perubahan yang lebih bermakna bagi publik. (AAE)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *